Kisah Mela [1]
Halo!
Di postinganku sebelumnya, aku sudah bercerita tentang pengalaman ku menulis. Dan sekarang, aku akan berbagi sedikit cerita tentang seorang sahabatku yang sekarang kondisinya sudah membaik.
Tenang, aku sudah meminta izin untuk mengupload kisahnya di blog ini. Semoga kalian suka!
Let's start it!
🌼🌼🌼
#kisah_mela
Selamat membaca. Kritik dan saran sangat saya terima😊
-----------
Namanya Mela. Begitulah aku memanggilnya. Kulitnya hitam manis, tampak selalu ceria, dan termasuk saingan selama kami bersekolah.
Sepengetahuanku, dia bugar. Sangat bugar. Tak ada raut sedih yang terpancar pada aura nya saat kami belajar, ataupun sedang makan bersama. Tapi tak ada seorang teman pun yang tahu, bahwa ada sebuah perjuangan dibalik semangatnya.
-----
****
Dari yang kuingat selama kami berteman, dia adalah teman yang semangat. Memang kami dahulu tidak terlalu dekat. Bahkan aku tidak mengingat jelas bagaimana kami bisa berteman. Maaf ya.
Namun, saat menduduki bangku kelas 3 SMA, kami mulai dekat. Dimulai dari pelajaran yang mengharuskan untuk berkelompok, atau sekedar pergi ke kantin bersama.
Dia mengikuti ekstrakurikuler PMR dari kelas 1 sampai ke kelas 3, dan rutin menghadiri jadwal kegiatan tersebut.
Tak ada raut lelah yang ia tampakkan selama kami belajar bersama, mengobrol atau bahkan sekedar makan diwaktu istirahat.
Seingatku, diriku pernah berfoto dengannya sewaktu kami kelas 1, dimana saat itu sedang diadakan perayaan hari Kartini, dan aku dipilih sebagai model.
Dia mengajakku berfoto, bahkan foto itu masih tersimpan di galeri hp.
Sejujurnya, diriku kagum pada kegigihannya dalam belajar. Aku merasa kalah bila dibandingkan dengannya. Semangatnya lebih besar daripada diriku yang suka malas-malasan ini.
Aku sering memperhatikan bahwa ia sering duduk sendirian di bangkunya, terkadang sedang mengerjakan tugas, atau cuman sekedar membaca buku. Heran, betah sekali ya duduk tanpa seorang teman.
Aku suka menghampirinya, mengajaknya mengobrol, atau bahkan untuk menemaniku menemui guru. Begitupun juga sebaliknya.
Dia baik, sangat baik. Dia suka membantuku dalam belajar. Aku pun tak sungkan bertanya dengannya. Selama ini, ia tak pernah mengeluh sakit.
Hingga pada bulan Desember lalu, saat kami mengikuti Ujian Akhir Semester Ganjil. Ia tiba diruangan ujian dengan muka pucat.
Semua teman yang ada di ruangan bingung seraya menghampiri.
Dia hanya menjawab "Aku baik baik saja."
Ujian pun dimulai, yang kuingat kami mengerjakan soal bahasa inggris.
Maafkan aku jika salah. Ingatanku tak sepenuhnya benar.
Mela mengaku ia mual, lalu pengawas yang kebetulan wali kelas kami meminta tolong kepada teman lain untuk mengambil air hangat.
Wali kelas pun membaluri minyak angin ke leher Mela. Aku yang melihatnya tak tega. Wajahnya benar benar pucat, sedangkan ia mengaku baik baik saja.
"Kebohongan macam apa itu?" kataku dalam hati.
Kamipun mengusulkan kepada wali kelas untuk membawa Mela ke ruang UKS saja agar bisa beristirahat.
Wali kelas pun menyetujuinya, Mela pun dibawa ke UKS.
Dan sejak hari itu, dirinya tidak mengikuti ujian di sekolah dan diberi keringanan untuk mengerjakan ujian dirumah.
🌼🌼🌼
Bersambung...
Note: Telah diedit oleh bapak Andri Wahyudi🌼
Terimakasih sekali lagi pak🙏
Ini cuma cerpen yang akan aku bagi 2 postingannya. Dan cerita ini ialah pengalaman pribadi sahabatku.
Kritik dan saran akan aku terima dengan senang hati😊
Silahkan komen dibawah untuk kritik dan saran!
Sampai jumpa dipostinganku selanjutnya,salam sayang❤
- -Triangle
Next
BalasHapusSemangat nulis..
BalasHapus